MENULIS ITU SEMUDAH MAKAN PISANG

MENULIS ITU SEMUDAH MAKAN PISANG

          Menulis itu pekerjaan penting pada zaman milenials ini, ada yang menulis tiap hari, tiap jam, bahkan ada yang menulis tiap menit. Entah menulis dipapan tulis tugasnya guru atau dosen, menulis buku diari kejadian, menulis buku catatan omongan dosen atau guru bagi mahasiswa dan pelajar. Wartawan yang tiap hari mencari berita kemudian mencatatnya. Ibu-ibu yang besok mau belanja keperluan sehari-hari. Jadi menulis itu sangat mudah, ada yang menyatakan, menulis itu semudah makan kacang, menulis itu ibarat ngomong, kalau saya menyatakan menulis itu semudah makan pisang. Kenapa saya katakan semudah makan pisang? Karena ketika kita mau makan pisang tanpa membersihkan kulitnya, tinggal kupas dan langsung dilahap. Berbeda dengan ketika makan kacang. Kupas dulu, pilah, atau mungkin bersihkan dulu, baru dimakan. Ada perbedaan rentetan dalam hal ini.Menulis semudah makan pisang.

          Menulis memang pekerjaan manusia yang ingin melakukan perpanjangan omong-onomg. Kita didesak kebutuhan menyampaikan satu soal. Kita dituntut menuangkan tulisan yang ada diotak kita, menuangkan gagasan dikertas yang ada dipikiran kita. Kita dituntut menguraikan satu kata, kita dituntut menguraikan suatu masalah, menguraikan suatu topik, perbincangan hangat yang ada sekarang ditulis dalam suatu kata-kata membentuk kalimat yang indah, kalimat yang mudah dipahami dan tentunya bahasa yang sederhana dan memuat aturan yang berlaku sesuai dengan ejaan Bahasa Indonesia.

          Saya selalu membaca apa yang diucapkan oleh Pramoedya Ananta Toer yaitu “orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang didalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah pekerjaan untuk keabadian”.

          Septiawan Santana (2007) menyatakan menulis itu ibarat ngomong. Lebih lengkapnya beliau menyatakan “menulis yang baik ibarat ngomong dengan enak tanpa beban. Tiap kata keluar begitu saja. Masuk ke gendang telinga, dan menempel dibenak lawan bicara. Semua mengalir bagai air. Kita tidak merasa dibebani. Kita menrasa senyaman menikmati udara gunung. Cara bicara tidak disetel tegang, dengan bibir mencang-mencong dan nada bicara tinggi-tinggi, mata dibuat melotot, Wajah tidak ditarik cari wibawa.

          Ada yang menyatakan, saya tidak bisa menulis? Pusing mulai dari mana menulisnya? Temanya apa? Apakah nanti tulisan saya itu ngawur?. Banyak alasan-alasan yang sering saya tangkap ketika saya ajak menulis. Beliau-beliau selalu menyatakan tidak ada waktu menulis. Benarkah demikian? Ternyata tidak rekan-rekan. Saya perhatikan dia selalu pegang hp tidak jam, tiap menit malah. Ketika membuka hp dia tersenyum, cekikikan, rupanya ada humor di WA nya. Berikutnya dia membalas WA tersebut dan kembali tersenyum. Buka lagi WA, ketik lagi, balas lagi. Bukannya pada zaman sekarang itu juga namanya menulis-mengetik-memencet tombol huruf yang ada di hp. Itu baru satu medsos, belum lagi membalas fb orang, twiter, instagram, telegram, email dan banyak lagi dimana pada saat ini setiap menit, jam, hari pasti menulis-mengetik-membalas medsos rekan-rekannya.

          Menulislah apa yang Saudara ketahui, tulis apa yang ada dibenak kita, tulis apa yang ingin disampaikan, berbagi informasi, berbagi ilmu, berbagi pengalaman, semua itu inshaallah akan mendapat pahala. Aamin. Bagi saya sendiri tiada hari tanpa menulis. Menulis itu ibarat makan dimana makan itu termasuk kebutuhan primer, kebutuhan yang harus ada, tidak boleh tidak ada. Kalau tidak makan tidak akan hidup. Begitulah menulis, menulis  harus dimulai sejak dini. Kita boleh mengajak anak-anak dirumah supaya terbiasa menulis. Kita ajak mereka tulis apa keperluan besok, tulis apa hobbimu, tulis berapa besar uang yang dihabiskan satu hari, satu minggu, satu bulan dan seterusnya.

        Menulislah, tidak usah takut salah, takut diomongin orang, toh tulisan bisa diperbaiki, tulisan bisa diralat, buku bisa direvisi 1, revisi 2 dan seterusnya. Tidak ada buku yang sempurna, semakin banyak revisi semakin menuju kesempurnaan. Hanya Kitabullah yang tidak ada revisinya. Jadi ngapain takut salah, SK penjabat banyak yang salah entah itu tanggalnya, namanya dan seterusnya. Jadi menulislah, tulislah apa yang saudara pahami, tulis apa yang saudara ketahui. OK… selamat menulis rekan-rekan dimanapun Saudara berada.

This Post Has 9 Comments

    1. ypsimbanten

      sangat setuju….

  1. Kamila

    Menulis itu mencegah pikun.. mari menulis buku

  2. Ditta

    Sepakat sepakat sepakat sama isi tulisannya. Jadi makin semangat nulis terima kasih

  3. Mukiminin

    Tulisannya bagus
    Setuju sekali
    Ini menginspirasi sy sgr munuliis
    Masih.
    Izin share

Tinggalkan Balasan